Goresan Pena Mahasiswa

Menjelang pergantian tahun, enam orang penulis dari mahasiswa STIA YPPT PRIATIM Tasikmalaya menutup tahun ini dengan berkarya dalam sebuah Catatan Akhir Tahun. Sabtu, (31//2/22).


-


Belum Usai

Karya : Kiva Amarullah


Tiap rintik yang jatuh dengan menitik

Kembali pada ingatan yang mengusik

Perlahan tersapu dengan sekian detik 

Secerah bahagia yang tumbuh

Kian mengusap jiwa-jiwa yang lusuh

Mengusir kecewa yang bergemuruh

Sekuat raga bersikukuh 

Nyatanya hanya berandai-andai 

Pada akhirnya perjalanan belum usai

Ingatan masih terus saja membantai

Berkecamuk seolah melambai-lambai 

Jatuh rapuh bergemuruh riuh

Esok pagi kembali pada jiwa yang tumbuh

Terima kasih untuk bahagia yang tak selalu utuh


Tasikmalaya, 31 Desember 2022


-


Bermain dengan Harapan

Karya : Galih Samsul Aripin


Ada banyak cerita yang belum sempat terselesaikan, tapi dunia sudah terlanjur mengajakku menuju tempat yang baru. 'Tak ada waktu untuk kembali, semua hanya tersimpan rapat dalam memori. Untuk itu, di masa yang baru saja datang, hari ini dan selanjutnya, selagi muda, aku ingin lebih menyayangi diriku sendiri dengan menjalani hidup sehat, berolahraga, memakan makanan dan minuman enak yang sejak lama aku inginkan, atau hal sederhana lain yang bisa mulai dilakukan.

Aku ingin lebih bijak dalam mengatur keuangan, terus menabung agar memiliki tempat tinggal sendiri, memiliki uang untuk masa depan dan masa kini. Aku 'tak ingin lagi bermain-main dengan ekonomi, sebab luka yang pernah kualami dalam hal ini, belum benar-benar pulih. 

Aku ingin tempat usahaku lebih maju lagi, memiliki cabang di tempat lain, dan berinvestasi. 

Aku ingin lancar berbicara bahasa inggris. 

Aku ingin mampu mengontrol emosiku sendiri. 

Aku ingin memiliki waktu tidur yang berkualitas. 

Aku ingin bahagia. 

Dan terakhir, yang 'tak kalah penting, aku ingin memiliki tempat untuk bercerita, sebuah rumah yang ramah, seorang yang sungguh saat pertama singgah, yang tak hanya menatap tapi juga menetap, yang hadirnya bukan sekadar membasuh bekas luka, tapi menjejalkan rasa bahagia. 

2023, mampukah semua terlaksana?


-


Kisah Terakhir

Karya : Natasha Rahmadanti Risnandar


365 hanya sebuah angka belaka, tapi setiap angka yang terus terhitung memiliki kisahnya. Bukan hanya kisah romansa, tapi terselip sebuah pencarian diri dari sang pengelana. 

Bumbu rasa selalu tertuang menjadi sebuah racikan yang tak terduga. 

Masih teringat kita bertemu pada akhir tahun lalu tepat dalam Desember.

Bagaimana kamu mencari karakter baru merangkai semua kisah bersama, mencurahkan rasa dan ego, tak terasa kini usai dalam Desember yang menjadi sebuah kisah terakhir yang terukir sebagai penghujung dari 365.

Selamat berkisah kembali di 2023


-


Terima Kasih 2022

Karya : Rani Wahyuni


Terimakasih 2022, tahun yang penuh kenangan dan pangalaman. Banyak harapan yang belum kecapai dan akhir tahun itu bukan akhir segalanya. Masih banyak yang harus kamu perjuangkan supaya kamu menjadi lebih baik di tahun berikutnya.

Tetap menjadi diri sendiri, tak perlu kamu lihat pencapaian orang lain. Karena sejatinya yang membuatmu bahagia adalah diri kamu sendiri bukan orang lain. 

Stay love your self

Jangan bandingkan hidupmu dengan orang lain. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan mereka bersinar saat waktunya tiba.


-


Keliru

Karya : Yusi Yusnia


Hening malam, bahkan pagi menjelang

Hawa dingin perlahan menusuk tulang

Jiwaku hampir habis digerogoti angan

Tangisku kembali memecah keheningan


Cinta semu seorang insan

Memuji mengintai tak pernah bosan

Berharap bahagia berbuah kesedihan

Diam terpaku tercabik menahan


Menanam tanpa memanen

Mengayuh tak pernah sampai

Berjalan pada jembatan 

yang tidak menghubungkan apapun


Jika sungguh-sungguh,

Hanya kepada-Mu Tuan

Hamba jatuh cinta, 

tanpa merasakan sakit.


-


Sesal yang Belum Usai

Karya : Laila Nabila


Kepada luka dan bahagia yang bertamu tanpa persiapan, terima kasih karena berkenan menjadi bagian dari 365 hari yang 'tak terlupakan. Kini, semua sudah usai. Satuan detik yang terus bergerak tanpa pernah mengeluh, mengajak kita untuk mempertemukan senggenggam sesal dengan kata sembuh. 

Benarkah?

Benar, meski tidak ada kata sembuh untuk perih yang terus diperah, untuk suara yang bungkam di bawah lampu temaram, untuk luka basah yang belum dibasuh, untuk tubuh yang patuh diminta jatuh, terlebih sang waktu saja tidak pernah mau menunggu manusia sekalipun dalam keadaan tak berdaya, namun, pada masa yang baru, waktu 'kan memberi kesempatan untuk memperbaiki yang telah lalu, merangkai kembali mimpi yang hilang terburu-buru, mengusir rindu dengan temu penuh haru dan membayar sebuah kesalahan dengan hukum yang tak bisa dirayu.

Untuk 2023, mari bertemu.


-


Masa Berikutnya

Karya : Yusi Yusnia


Ku kantongi harapan

Untuk bekal tahun depan

Ku bersihkan jalanan

Agar lancar sampai tujuan

Membuang semua pilu

Kesepian yang mencekamku

Kecewa, duka dan sendu

Ingin ku bakar bersama ilusi tentangmu

Sudah hampir dua windu

Tak ku temukan teduh rumahku

Saat hantam badai menjatuhkanku

Hangat pelukmu selalu kurindu

Kini, dengan semangat menggebu

Ku pungut dan susun kembali yang berserak itu

Bersiap dengan tas penuh di pundakku

Menyambut sesuatu dibalik pintu

Namun, aku perlu minta maaf kepada Tuhan

Karena kerap kali lalai dan mengabaikan

Sedang tak terhitung nikmat dilimpahkan

Namun syukur terkadang lupa ku panjatkan


Tasikmalaya, 31 Desember 2022




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upgrading Organisasi Kemahasiswaan

AUDIENSI ORGANISASI MAHASISWA TERHADAP LEMBAGA STIA YPPT PRIATIM TASIKMALAYA

STIA YPPT PRIATIM TASIKMALAYA Resmi Laksanakan Pekan Orientasi Kehidupan Kampus (POKUS) Tahun 2022 Secara offline 07- 10 September 2022