Ragam Tulisan - Dan Juni, Kita Terluka Lagi


 "Tidak ada yang salah. Dunia hanya menguatkanmu dengan banyak konspirasi tak terduga yang datang tanpa lelah. Biarlah seluruh patah terasa mudah, karena batin yang diperah, pikiran yang dipaksa gagah, harus tetap tegar dan tenang tanpa bantah."


-


Semua tentang Waktu

Karya : Kamila Rosalina


Rotasi waktu terus berputar. Rasa pun perlahan mulai memudar. Kehadirannya yang tak seperti biasanya dan tak seperti awal mulanya. Kabar pun seolah sudah tak penting. Hanya luka yang bisa kau ukir. Lalu untuk apa bertahan? Jika kehadiranku sudah tidak dihiraukan. Memang pada akhirnya semua akan asing dan terlupakan.


-


Usai 

Karya : Salsabila Imtinan


Kalau suatu saat nanti

aku berhasil menatapmu tanpa sebuah harap,

aku mampu berbincang denganmu tanpa derap suara yang bergetar.

Artinya kamu bukan lagi sosok yang ku kagumi.

Ah tidak, kamu tetap menjadi sosok yang pernah aku kagumi.

Namun sudah berhasil mengambil pelajaran berharga atas kisah yang kita jalani tanpa membawa serpihan lukanya.

𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘫𝘦𝘮𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘩𝘢𝘭. 𝘦𝘯𝘵𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘬𝘢, 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘴𝘢𝘬𝘪𝘵 𝘱𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯.


-


Kanvas

Karya : Galih Samsul Aripin


Terkadang, beban dunia terasa terlalu berat untuk ditanggung. Satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah dengan mencari tempat yang tenang dan membiarkan pikiran melayang. Pria ini, yang duduk sendirian di jalan sambil menghisap rokoknya, sangat memahami perasaan itu. Terlihat dari kesedihan di matanya dan kesepian dalam postur tubuhnya. Tetapi pada saat itu, dia menemukan penghiburan dalam tindakan merokok, sebuah pelarian kecil dari masalahnya.

Karena seringkali, manusia mengira hidupnya yang hilang arah, ternyata justru egonya yang enggan untuk berserah.

Ketika terluka, dunia terasa semrawut dan penuh kegelapan. Namun, perlahan-lahan, luka itu menjadi sebuah kanvas putih yang menunggu untuk diisi dengan warna dan keindahan baru. Dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan untuk bangkit dan tumbuh, seperti bunga yang merekah dalam kehujanan. Terluka bukanlah akhir dari segalanya, tapi awal dari perjalanan menuju keindahan yang lebih besar.


-


Pekat

Karya: Laila Nabila


Kita dikerdilkan ekspektasi dan dibenci realita. Tidak ada jalan untuk kembali bersama selain menanti keajaiban benar-benar bekerja. Meski katamu tidak ada kata terlambat selagi napas belum tersenggal di tenggorokan dan waktu masih bergerak teratur dalam lintasan. Namun, hati yang terbentur menggaungkan harap agar jarak tetap mengudara tanpa batas waktu yang ditentukan. Tak perlu diselesaikan, dunia terlalu warna-warni untuk lukaku yang dibalut hitam pekat. Semua tampak mencurigakan, bahkan aku kehilangan diri sendiri karena seringkali salah memercayai. Kukirim sinyal bahagia pada semesta, akan tetapi semua jatuh tergerai, kemudian lari melewati pilar-pilar ketenangan yang jatuh terurai, sampai berontak mendobrak pagar kesunyian yang lama terbengkalai.

Ada kah cara untuk kembali ke masa lanmpau? Sakit ini berteriak tanpa suara, ia menahan diri agar semua tampak baik-baik saja. Jika waktu bisa dikendalikan, akankah semua sembuh dengan cepat? Atau justru... Aku semakin tertinggal dan menepi bersama duka yang didapat? Entah, sadari saja satu hal, beberapa manusia terlalu apatis terhadap perasaan sesamanya, hingga lupa dirinya juga seorang manusia yang bisa terluka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upgrading Organisasi Kemahasiswaan

AUDIENSI ORGANISASI MAHASISWA TERHADAP LEMBAGA STIA YPPT PRIATIM TASIKMALAYA

STIA YPPT PRIATIM TASIKMALAYA Resmi Laksanakan Pekan Orientasi Kehidupan Kampus (POKUS) Tahun 2022 Secara offline 07- 10 September 2022